Minggu, 09 Februari 2014

Analisis Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Naga dan Jeruk dan Absorpsi Natrium Klorida Dengan Variasi Media Pengasinan Telur Itik

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Harga telur yang murah, akan tetapi kualitas dari telur tersebut juga harus segar dan kondisinya bagus dimana kondisi luarnya baik, bentuk kulit tebal, tidak dalam keadaan retak atau pecah, tekstur permukaan dan warnanya bagus serta bersih, mempunyai rongga udaranya kecil, kuning telur ditengah, dan tidak terdapat bercak atau noda darah. Kondisi telur tersebut dapat diketahui dengan cara merendamnya dalam air bersih.
Masyarakat pada umumnya memanfaatkan telur sebagai lauk dengan mengolahnya menjadi telur dadar, telur rebus, bahan pencampur berbagai makanan, adonan kue, obat, dan lain sebagainya. Selama ini telur asin banyak dikonsumsi dengan pengolah telur asin biasa, hal ini dikarenakan belum banyak produsen telur yang membuat sebuah variasi rasa yang berbeda. Cara lain untuk membuat telur asin dengan variasi rasa yang berbeda maka dilakukan dengan penambahan unsur rasa pada proses pembuatannya. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat telur asin dengan rasa lain adalah dengan menambahkan aneka macam buah. Penambahan aneka macam buah tidak hanya meningkatkan aneka macam rasa akan tetapi diarahkan menjadi produk pangan yang fungsional. Produk pangan yang fungsional harus mengandung komponen senyawa yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti senyawa antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.
2
Pembuatan telur asin selama ini masih berdasar kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sehingga belum pernah ada uji terhadap kemurnian garam natrium klorida yang digunakan untuk membuat media pengasinan seberapa garam natrium klorida yang harus ditambahkan secara tepat ke dalam media pengasinan. Pada kenyataannya produsen telur asin tidak pernah terpikirkan berapa besar garam natrium klorida yang digunakan pada saat membuat adonan media pembalut telur tersebut telah terabsorpsi ke dalam telur dan apakah aman atau tidak bagi konsumen yang mengkonsumsinya terlebih lagi bagi orang yang mengidap penyakit hipertensi.
Pengasinan adalah sebagai salah satu upaya untuk mengawetkan telur atau memperpanjang masa simpan, mengurangi rasa amis dan menciptakan rasa yang khas. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk membuat telur asin yaitu perendaman dalam larutan garam jenuh dan pemeraman dengan dua jenis adonan yaitu menggunakan dedak padi dan abu gosok. Masing-masing cara akan memberikan hasil yang berbeda satu sama lainnya.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka penulis berkeinginan untuk melaksanakan penelitian “Analisis Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Naga dan Jeruk dan Absorpsi Natrium Klorida dengan Variasi Media Pengasinan Telur Itik”.

B.    
3
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1.      Berapakah kadar natrium klorida yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur itik?
2.      Bagaimana uji aktivitas antioksidan terhadap telur asin yang ditambah ekstrak buah naga dan jeruk?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1.         Untuk mengetahui kadar natrium klorida yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur itik.
2.         Untuk mengetahui aktivitas antioksidan terhadap telur asin yang ditambah ekstrak buah naga .

D.    Manfaat Penelitian
1.      Menambah pengalaman praktik dan teoritis bagi peneliti khususnya pada pembuatan telur dengan variasi media pengasinan telur asin yang ditambah ekstrak buah.
2.      Memberikan informasi kepada masyarakat tentang penambahan ekstrak buah terhadap aktivitas antioksidan dengan variasi media pengasinan telur asin dan kadar natrium klorida yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur asin yang ditambah ekstrak buah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Telur
1.      Definisi Telur
Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Telur yang dikonsumsi umumnya berasal dari jenis-jenis burung, seperti ayam, bebek, dan angsa, akan tetapi telur-telur yang lebih kecil seperti telur ikan kadang juga digunakan sebagai campuran dalam hidangan (kaviar). Telur yang dikonsumsi ada juga yang berukuran besar seperti telur burung unta (Kasuari) ataupun sedang misalnya telur penyu.
Produk telur ayam sebagian besar ditujukan untuk dikonsumsi orang yang tidak disterilkan, mengingat ayam petelur yang menghasilkannya tidak didampingi oleh ayam pejantan. Telur yang disterilkan dapat pula dipesan dan dimakan sebagaimana telur-telur yang tidak disterilkan, dengan sedikit perbedaan kandungan nutrisi. Telur yang disterilkan tidak akan mengandung embrio yang telah berkembang, sebagaimana lemari pendingin mencegah pertumbuhan sel-sel dalam telur.

2.      Kandungan Gizi Telur
Telur mengandung berbagai vitamin dan mineral, termasuk vitamin A, riboflavin, asam folat, vitamin B6, vitamin B12, kolin, besi, kalsium, fosfor dan potasium. Telur ayam juga merupakan makanan termurah sumber protein yang lengkap. Satu butir telur ayam berukuran besar  mengandung sekitar 7 gram protein. Telur sering dijadikan standar emas sebagai pembanding sumber protein lainnya. Kandungan asam aminonya, sekitar 6 gram protein dalam telur lebih gampang diserap dan dipergunakan tubuh secara efisien. Telur juga hanya mengandung 74 kalori.
5
Kandungan vitamin A, D dan E terdapat dalam kuning telur. Telur memang dikenal menjadi salah satu dari sedikit makanan yang mengandung vitamin D. Telur merupakan salah satu sumber alami vitamin D yang penting untuk tulang dang gigi. Vitamin D diperlukan untuk penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan gigi dan susu. Satu kuning telur besar mengandung sekitar 60 kalori dan putih telur mengandung sekitar 15 kalori. Satu kuning telur besar mengandung dua per tiga jumlah kolesterol harian yang dianjurkan yaitu 300 mg. Lemak dalam telur juga terdapat dalam bagian kuning telur.
Satu kuning telur juga mengandung separuh jumlah kolin harian yang dianjurkan. Kolin merupakan nutrisi yang penting untuk perkembangan otak dan juga sangat penting untuk wanita hamil dan menyusui untuk memastikan perkembangan otak janin. Telur juga mengandung Lutein dan Zeaxanthin dimana kedua zat tersebut juga penting yang ditemukan dalam sayur dan bayam ini juga terdapat pada kuning telur. Fungsinya antara lain mencegah kerusakan mata, terutama katarak dan degenerasi makula. Kandungan lutein dan zeaxanthin dalam telur lebih sedikit daripada pada sayuran hijau, akan tetapi fitokemikal ini lebih gampang diserap tubuh karena berada dalam lemak di kuning telur.
6
 
3.     Daya Tahan Telur
Telur komersial pada umumnya dapat tahan antara 3 minggu sampai 1 bulan. Daya tahan tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti cuaca atau suhu dan kualitas telur menentukan umur telur layak dikonsumsi. Suhu lingkungan berpengaruh, semakin panas suhu di suatu wilayah maka semakin pendek umur telur. Faktor kedua adalah kualitas telurnya, seperti telur merah dan telur putih kualitasnya berbeda jauh. Telur merah bisa bertahan sampai 1 bulan sedangkan telur putih hanya 15 hari. Sebelum dipasarkan sebaiknya telur tidak dicuci, bila dicuci telurnya justru cepat busuk. Telur yang dicuci sangat tidak dianjurkan karena membuat jadi sangat cepat rusak. Pori-pori telur bisa terbuka lebar dan bakteri bisa masuk lewat sana. Telur yang dicuci hanya bisa bertahan maksimal 2–3 hari dan harus segera dimasak.

B.     Telur Asin
1.      Definisi Telur Asin
Telur asin adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Telur yang banyak diasinkan adalah telur itik, walaupun tidak menutup kemungkinan untuk telur–telur yang lain. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).
7






Gambar 1. Telur Itik

2.      Proses Pembuatan Telur Asin
Proses pembuatan telur asin pada dasarnya ada beberapa cara, namun kebanyakan orang lebih memilih dengan cara direndam atau di balut dalam adonan garam dicampur dengan serbuk bata merah, tanah liat, atau abu gosok, selain itu ada juga yang merendamnya dengan cairan teh bercampur dengan adonan garam. Semua cara dalam hal ini bertujuan sama yaitu membuat telur itik menjadi telur yang berasa asin, akan tetapi ada juga yang mencoba membuat telur asin dengan ditambahkan rasa jahe, rasa jeruk, bahkan rasa cabai ke dalam larutan garamnya, sehingga rasa telur tersebut tidak hanya asin, melainkan berpadu dengan rasa lain yang telah ditambahkan kedalam adonan garam tersebut.
Pembuatan telur asin merupakan diversifikasi dari usaha pemeliharaan bebek petelur. Pengembangan usaha ini, bertujuan untuk mendapatkan keuntungan ganda dan menyadari kalau menjual telur yang diasinkan lebih menguntungkan, karena harga telur asin lebih tinggi dibandingkan telur biasa. Orang yang gemar telur asin semakin banyak, oleh sebab itu diharapkan peternak tidak hanya menekuni satu bidang usaha/beternak saja, tetapi membuat telur asin juga. Hasilnya akan lebih berlipat ganda, peternak bisa menjual telur segar dan telur asin.
8
 
3.      Variasi Pengasinan Telur Asin
Pengasinan telur adalah salah satu cara pengawetan yang banyak dilakukan oleh masyarakat. Tujuan dari proses pengasinan ini adalah untuk mencegah kerusakan dan pembusukan telur serta memberi citarasa khas dari telur. Pengasinan telur juga banyak menghasilkan keuntungan antara lain mudah untuk dilakukan, biayanya murah, praktis, serta dapat meningkatkan kesukaan konsumen.
Metode pengolahannya ada dua cara yang digunakan yaitu perendaman dengan menggunakan larutan garam jenuh dan pembalutan dengan mencampur garam, serbuk bata merah, serbuk gergaji, dedak dan abu gosok. Pembuatan telur asin dengan menggunakan metode perendaman dalam larutan garam jenuh sangat mudah dan praktis. Keunggulan telur asin dengan perendaman adalah prosesnya singkat, sedangkan dengan cara pembalutan prosesnya rumit dan perlu kesabaran dalam pembalutannya.
Mekanisme yang terjadi pada pengasinan adalah penetrasi garam dengan cara difusi setelah garam mengion menjadi ion Na+ dan Cl-. Kedua ion tersebut berdifusi ke dalam telur melalui lapisan kutikula, bunga karang, lapisan mamilaris, membran kulit telur, putih telur, membran vitelin dan yang terakhir adalah kuning telur. Laju difusi mendapat hambatan dari lapisan kapur yang terdapat pada kerabang telur serta lapisan lemak pada kuning telur. Larutan garam yang berdifusi ke dalam telur disebabkan oleh terdapatnya pori–pori pada kerabang telur dan konsentrasi larutan garam NaCl. Difusi ini biasa disebut dengan osmosis.
9
 
4.      Pemilihan Telur Asin
Kondisi telur yang secara pasti akan diasinkan, maka perlu dilakukan pemeriksaan sekaligus pemilihan(sortasi). Namun, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa telur-telur yang akan diperiksa tersebut merupakan telur yang belum pernah dierami sama sekali, sehingga kemungkinan adanya janin didalamnya dapat dihindari. Disamping itu, harus dihindari juga penggunaan telur yang telah mengalami keretakan atau pecah kulit, karena selama dalam perendaman putih telurnya akan menerobos keluar dan membuat larutan perendamannya berbau busuk.
Pemeriksaan dilakukan dengan memasukan telur-telur tersebut kedalam suatu wadah atau bak plastik yang telah diisi dengan air, kemudian mengamati posisi telur telur etrsebut didalam air. Telur yang melayang. harus segera dipisahkan, sedangkan telur yang tengelam atau yang setengah melayang dibiarkan terendam beberapa saat sehingga kotorannya mudah dibersihkan. Telur-telur yang baik tersebut, kemudian dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air hingga benar-benar bersih, serta ditiriskan.
10
Pemeriksaan telur bisa juga dilakukan seperti langkah-langkah berikut:
a.    Kelompokkan telur berdasarkan tingkat kebersihannya. kemudian bersihkan mulai dari kelompok kotor kemudian kelompok yang sangat kotor.
b.    Telur yang kurang kotor dapat dibersihkan dengan kain/busa halus yang kering atau ampelas. Telur yang kotor dan sangat kotor ditempatkan diwadah terpisah dan dibersihkan dengan cara merendamnya dalam air detergen hangat selama 2 menit untuk melepaskan kotoran yang sudah mengering.
c.    Teropong telur yang sudah kering. Perhatikan keutuhan kerabang, keadaan isi telur dan rongga udaranya. Pilihlah telur yang kerabangnya utuh/tidak retak dan isi telur terlihat bersih serta memiliki rongga udara lebih kecil.

C.    Antioksidan
1.         Definisi Antioksidan
Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya. Radikal bebas adalah spesies yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi.  Protein lipida dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya.
11
 
2.      Jenis Antioksidan
Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat dialam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid.
a.    Hal Penting Mengenai Uji Antioksidan
Antioksidan diharapkan aman dalam penggunaan atau tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), tersedia dengan harga cukup terjangkau, dan tahan terhadap proses pengolahan produk. Antioksidan penting dalam melawan radikal bebas, tetapi dalam kapasitas berlebih menyebabkan kerusakan sel.
b.    Sumber Antioksidan
Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen). Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Stres oksidatif merupakan keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen reaktif. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.
c.   
12
Penggolongan Antioksidan Berdasarkan Mekanisme Kerjanya
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi antioksidan primer yang dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil , dan antioksidan sekunder atau antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta antioksidan tersier. Mekanisme kerja antioksidan selular menurut Ong et al.(1995) antara lain, antioksidan yang berinteraksi langsung dengan oksidan, radikal bebas, atau oksigen tunggal, mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif, mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang toksik, mencegah kemampuan oksigen reaktif, dan memperbaiki kerusakan yang timbul.

3.      Uji Aktivitas Antioksidan
Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH. Pada tahun 1922, Goldschmidt dan Renn menemukan senyawa berwarna ungu radikal bebas stabil DPPH, yang sekarang digunakan sebagai reagen kolorimetri untuk proses redoks. DPPH sangat berguna dalam berbagai penyelidikan seperti inhibisi atau radikal polimerisasi kimia, penentuan sifat antioksidan amina, fenol atau senyawa alami (vitamin, ekstrak tumbuh-tumbuhan, obat–obatan) dan untuk menghambat reaksi homolitik. DPPH
13
berwarna sangat ungu seperti KMnO4 dan bentuk tereduksinya yaitu 1,1-difenil-2-picrylhydrazine (DPPH-H) yang berwarna orange–kuning. DPPH tidak larut dalam air (Ionita, 2003).
DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau ekstrak bahan alam. DPPH menerima elektron atau radikal hidrogen akan membentuk molekul diamagnetik yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH, akan menetralkan radikal bebas dari DPPH dan membentuk DPPH tereduksi. Jika semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm akan hilang. Perubahan ini dapat diukur sesuai dengan jumlah elektron atau atom hidrogen yang ditangkap oleh molekul DPPH akibat adanya zat reduktor (Molyneux, 2004).
Molyneux (2004) menyatakan bahwa suatu zat mempunyai sifat antioksidan bila nilai IC50 kurang dari 200 ppm. Bila nilai IC50 yang diperoleh berkisar antara 200-1000 ppm, maka zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat antioksidan. Rumus molekul DPPH dapat dilihat pada Gambar 2.1.



 




14
a                                                          b
                 Gambar 2. Rumus Bangun DPPH

Keterangan:
a. bentuk radikal DPPH
b. bentuk nonradikal (DPPH-H)


Senyawa antioksidan mempunyai sifat yang relatif stabil dalam bentuk radikalnya. Senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan dapat diprediksi dari golongan fenolat, flavonoida dan alkaloida yang merupakan senyawa-senyawa polar. Aktivitas antioksidan merupakan kemampuan suatu senyawa atau ekstrak untuk menghambat reaksi oksidasi yang dapat dinyatakan dengan persen penghambatan (Brand-Williams, 1995).
Resonansi DPPH dan reaksi DPPH dengan atom H netral yang berasal dari senyawa-senyawa yang bersifat antioksidan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.

15
Gambar 3. Resonansi DPPH (1,1- diphenyl-2-picrylhydrazyl)
 




Gambar 4.  Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari antioksidan.
Parameter yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan adalah harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC50) atau Inhibition Concentration (IC50) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi suatu zat antioksidan yang memberikan persen penghambatan 50%. Zat yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi, akan mempunyai harga EC50 atau IC50 yang rendah (Brand-Williams, 1995).
1.    Pelarut
Metode ini akan bekerja dengan baik menggunakan pelarut metanol atau etanol dan kedua pelarut ini tidak mempengaruhi dalam reaksi antara sampel uji sebagai antioksidan dengan DPPH sebagai radikal bebas (Molyneux, 2004).
2.   
16
Pengukuran Absorbansi – Panjang Gelombang
Panjang gelombang maksimum (λmaks) yang digunakan dalam pengukuran uji sampel uji sangat bervariasi. Menurut beberapa literatur panjang gelombang maksimum untuk DPPH antara lain 515 nm, 516 nm, 517 nm, 518 nm, 519 nm dan 520 nm. Pada prakteknya hasil pengukuran yang memberikan peak maksimum itulah panjang gelombangnya yaitu sekitar panjang gelombang yang disebutkan diatas. Nilai absorbansi yang mutlak tidaklah penting, karena panjang gelombang dapat diatur untuk memberikan absorbansi maksimum sesuai dengan alat yang digunakan (Molyneux, 2004).
3.    Waktu Reaksi
Pada metode sebelumnya waktu reaksi yang direkomendasikan adalah 30 menit, dan sudah sering dilakukan. Waktu yang paling cepat yang pernah digunakan, 5 menit atau 10 menit. Kenyataannya waktu reaksi yang benar adalah ketika reaksi sudah mencapai kesetimbangan. Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh sifat dari aktivitas antioksidan yang terdapat di dalam sampel (Molyneux, 2004).




D.   
17
Buah Jeruk
1.      Definisi Jeruk
Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga anggota marga Citrus dari suku Rutaceae (suku jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa masam yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang menjadi terkandung pada semua anggotanya.
Sebutan "jeruk" kadang-kadang juga disematkan pada beberapa anggota marga lain yang masih berkerabat dalam suku yang sama, seperti kingkit. Dalam bahasa sehari-hari, penyebutan "jeruk" atau "limau" (di Sumatra dan Malaysia) seringkali berarti "jeruk keprok" atau "jeruk manis". Di Jawa, "limau" (atau "limo") berarti "jeruk nipis".
Jeruk sangatlah beragam dan beberapa spesies dapat saling bersilangan dan menghasilkan hibrida antarspesies ('interspecific hybrid) yang memiliki karakter yang khas, yang berbeda dari spesies tetuanya. Keanekaragaman ini seringkali menyulitkan klasifikasi, penamaan dan pengenalan terhadap anggota-anggotanya, karena orang baru dapat melihat perbedaan setelah bunga atau buahnya muncul. Akibatnya tidak diketahui dengan jelas berapa banyak jenisnya. Penelitian-penelitian terakhir menunjukkan adalah keterkaitan kuat Citrus dengan genus Fortunella (kumkuat), Poncirus, serta Microcitrus dan Eremocitrus, sehingga ada kemungkinan dilakukan penggabungan. Citrus sendiri memiliki dua anak marga (subgenus), yaitu Citrus dan Papeda.
18





Gambar 5. Buah Jeruk       
                                 
2.      Kandungan Gizi Jeruk
Jeruk yang dikenal sebagai buah yang sangat segar dan bergizi merupakan sumber vitamin C dan mengandung banyak serat buah yang akan sangat berguna bagi kestabilan tubuh. Selain kandungan vitamin C juga mengandung vitamin B6 (Pyridoxine), vitamin B1 (Thiamin), vitamin B2 (Riboflavin), vitamin B3 (macin), vitamin B5 (asam pantotenat), asam folat, magnesium, karbohidrat, serat buah, kalsium, potasium, senyawa fitokimia, fosfor, tembaga, lemak, air, belerang, dan besi. Komposisi atau kandungan gizi pada jeruk per 100 gram jeruk manis adalah sebagai berikut : besi 0,4 mg, tembaga 45 Kkal, fosfor 23 mg, kalsium 33 mg, karbohidrat 11 gr, lemak 0,2 gr, protein 0,9 gr, vitamin A sebanyak 19 µ, vitamin B1 sebanyak 0,08 mg, vitamin C 49 mg, serta air yang banyak terkandung dalam jeruk.

19
Rumus bangun Vitamin C dapat dilihat pada Gambar 6.





Gambar 6. Rumus bangun vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 176,13 dengan rumus molekul C6H8O6. Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8O6. Pemerian vitamin C adalah hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil di udara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190oC. Kelarutan vitamin C mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene (DepKes RI, 1995).
Struktur asam askorbat sangat mirip dengan glukosa, dari glukosa inilah asam askorbat diturunkan pada sebagian besar mamalia. Meski demikian, pada primata, termasuk manusia dan sejumlah hewan lain, misalnya marmut, sebagian kelelawar, burung, ikan, serta invertebrata. Tidak ada enzim L–gulonolakton oksidase akan mencegah sintesis tersebut.

   O = C
HO – C – H     O
HO – C – H
   H – C
HO – C – H
          CH2OH
Gulonolakton
   O = C
          C – OH              O
          C – OH*
   H – C
HO – C – H
          CH2OH
Asam Askorbat
[2H]
   O = C
          C = O     O
          C = O
   H – C
HO – C – H
          CH2OH
Asam dehidroaskorbat
20
 
                                  Enzim tidak ada
pada primatadan marmut
                                 





Gambar 7. Asam askorbat, sumbernya pada mamalia selain primata dan marmut, serta oksidanya menjadi asam dehidroaskorbat (tanda bintang: terionisasi di dalam askorbat) (Robert K. M, et al, 2003)

Vitamin C berkhasiat sebagai antiskorbut maka dinamakan asam skorbut atau vitamin C. Vitamin C berkerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan antioksidan. Vitamin C berperan juga dalam proses pembentukan kolagen. Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin C adalah sekitar 35 mg untuk bayi dan 60 mg pada orang dewasa.

3.      Zat Antioksidan
Vitamin C pada buah jeruk merupakan antioksidan yang sangat di butuhkan oleh kulit, di mana ia membantu menetralkan radikal bebas yang menumpuk akibat paparan sinar matahari dan usia.



E.    
21
Buah Naga
1.      Definisi Buah Naga
Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia. Buah ini juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus hanya mekar pada malam hari.
Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah, oleh sebab itu, buah ini selalu diletakkan diantara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah buah terlihat mencolok di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Istilah Thang loy kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa Inggris sebagai dragon fruit (buah naga).





22
         






Gambar 8. Buah naga

2.      Kandungan Buah Naga
Buah naga biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90% dari berat buah. Rasanya cukup manis karena mengandung kadar gula mencapai 13-18 briks. Buah naga juga dapat disajikan dalam bentuk jus, sari buah, manisan maupun selai atau beragam bentuk penyajian sesuai selera anda. Secara umum, pakar sependapat dan mengakui buah naga kaya dengan potasium, ferum, protein, serat, sodium dan kalsium yang baik untuk kesehatan dibandingkan buah-buahan lain yang diimport.
Buah naga merah mengandung protein yang mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan jantung, serat (mencegah kanker usus, kencing manis dan diet), karotin (kesehatan mata, menguatkan otak dan mencegah masuknya penyakit), kalsium (menguatkan tulang). Buah naga juga mengandung zat besi untuk menambah darah, vitamin B1 (mencegah demam badan), vitamin B2 (menambah selera), vitamin B3 (menurunkan kadar kolesterol) dan vitamin C (menambah kelicinan, kehalusan kulit serta mencegah jerawat).
23
Dibawah ini tabel 2.1. kandungan nutrisi dalam buah per 100 g.
Nutrisi
Jumlah
Kadar gula
13-18 briks
Air
90.20 %
Karbohidrat
11,5 g
Protein
0,53 g
Asam
0.139 g
Serat
0,71 g
Fosfor
8,7 mg
Magnesium
60,4 mg
Kalsium
134,5 mg
Vitamin C
9,4 mg
sumber: Kristanto,2009

F.     Uji Mineral
1.      Natrium
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular. 35–40% natrium ada di dalam kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti cairan empedu dan pankreas, mengandung banyak natrium. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl. Garam dapur di dalam makanan sehari–hari berperan sebagai bumbu dan sebagai bahan pengawet.
24
Sumber natrium adalah garam dapur, monosodium glutamat (MSG), kecap dan makanan yang diawetkan dengan garam dapur. Diantara makanan yang belum diolah, sayuran dan buah mengandung paling sedikit natrium (lihat tabel 2.3).
Tabel 2.3. Kandungan natrium beberapa bahan makanan (mg/100 gr)
Bahan Makanan
mg
Bahan makanan
mg
Daging sapi
Hati sapi
Ginjal sapi
Telur bebek
Telur ayam
Ikan ekor kuning
Sardin
Udang segar
Teri kering
Susu sapi
Yogurt
mentega
93
110
200
191
158
59
131
185
885
36
40
780
Margarin
Susu kacang kedelai
Roti coklat
Roti putih
Kacang merah
Kacang mende
Jambu monyet,biji
Selada
Pisang
Teh
Coklat manis
ragi
950
15
500
530
19
26
26
14
18
50
33
610

Natrium Klorida yang juga dikenal sebagai garam meja atau garam karang merupakan senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium Klorida adalah garam yang paling berperan penting dalam salinitas laut dan dalam cairan ekstraselular dari banyak organisme multiselular. Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk kristal atau bubuk berwarna putih. Natrium klorida dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol. Natrium klorida juga merupakan senyawa natrium yang melimpah di alam.
25
   2NaCl   + 2H2O           Cl2  + H2  + 2NaOH
Natrium klorida digunakan dalam proses kimia untuk skala besar produksi senyawa yang mengandung Sodium dan Khlor. Sejak akhir abad ke–19, pada waktu prose elektrolisis secara besar–besaran diperkenal kan, telah dapat dibuat bermacam–macam senyawa dengan bahan baku natrium klorida, misalnya Natrium Hidroksida, Asam Klorida, Natrium Karbonat, Natrium Sulfat dan senyawa–senyawa lainnya. Metode penetapan kadar natrium klorida menggunakan Argentometri Mohr.





BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Definisi Konsepsional
1.      Telur asin adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak).
2.      Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi.
3.      Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk kristal atau bubuk berwarna putih. NaCl dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol.

B.   Definisi Operasional
1.      Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil sebagai sumber radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari zat antioksidan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
(DPPH) + (H—A) → DPPH—H + (A)
Ungu                         Kuning

H-A adalah senyawa antioksidan yang akan diuji.
2.      Metode penetapan kadar NaCl menggunakan Argentometri Mohr.

C.   
27
Variabel Penelitian
Variabel bebas pada penelitian ini adalah telur asin dengan media pengasinan yang ditambah ekstrak buah, sedangkan variable terikatnya adalah aktivitas antioksidan, dan absorpsi NaCl.

D.    Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember sampai selesai. Tempat penelitian dilakukan di laboratorium Fakultas Farmasi Mulawarman Samarinda.

E.     Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh telur bebek yang dijual dipasar segiri. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik random sampling yaitu pengambilan sampel telur bebek yang secara acak yang dijual di pasar segiri Samarinda. Sedangkan media pengasinan yaitu air, dedak padi, dan abu gosok yang ditambah ekstrak buah.

F.     Alat dan Bahan Penelitian
1.      Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.       Alat yang digunakan untuk pembuatan telur asin antara lain : timbangan, bak plastik, amplas, sendok, pembungkus/ plastik, toples plastik.
b.      Alat yang digunakan untuk analisis dibagi menjadi dua yaitu untuk analisis sensoris menggunakan seperangkat alat uji sensoris dan untuk analisis aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
c.      
28
Alat yang digunakan untuk analisis kadar NaCl antara lain : kertas saring, gelas kimia, erlenmeyer, buret, dan klem statif.
2.  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.       Bahan yang digunakan untuk pembuatan telur asin antara lain : telur bebek, garam dapur, air, dedak, abu gosok, buah (buah jeruk dan buah naga)
b.      Bahan yang digunakan untuk analisis aktivitas antioksidan yaitu Diphenyl picrylhydrazyl (DPPH) 0,5 mM, metanol p.a dan aquades.
c.       Bahan yang digunakan untuk analisis absorpsi NaCl yaitu kristal K2CrO4 p.a dan kristal AgNO3 p.a.

G.    Prosedur Kerja Penelitian
1.      Pembuatan Adonan Pasta Pengasinan
Bahan yang digunakan pada pembuatan adonan pasta pengasinan ini adalah  dedak, abu gosok, air, garam dapur, dengan perbandingan antara dedak : abu gosok : air : garam dapur yaitu 1 : 1 : 1 : 1.
2.      Pembuatan Telur Asin
Telur bebek yang telah disiapkan kemudian diamplas seluruh permukaan telur agar pori-porinya terbuka. Dibalur telur dengan adonan satu persatu secara merata sekeliling permukaan telur, setebal 1 cm. Selanjutnya telur yang telah dibalur dengan adonan dibungkus dengan plastik. Kemudian disimpan atau dilakukan pemeraman dalam wadah selama 10 hari. Diusahakan agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan tertutup. Sedangkan untuk media air sediakan toples plastik lalu masukkan air dan garam dapur ke dalam toples kemudian disimpan. Setelah 10 hari telur diangkat, dibersihkan/dicuci dengan air sampai  bersih. Selanjutnya masukkan ekstrak buah (buah jeruk dan buah naga) sebanyak 15 mL ke dalam telur kemudian di kocok agar ekstrak buah tersebut tercampur hingga merata. Kemudian direbus selama 1 setengah jam.
3.     
29
Pembuatan Larutan Induk
Sampel (4,0 mg) dilarutkan dalam metanol ke dalam labu takar sampai tanda batas, lalu homogenkan.
4.      Pembuatan Larutan DPPH
DPPH (4,0 mg) dilarutkan dalam metanol sampai 100mL, sehingga didapat larutan 0,004% (40,0 bpj). Larutan dijaga pada suhu rendah dan terlindungi dari cahaya (segera digunakan).
5.      Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Dipipet larutan induk (dengan variasi konsentrasi 0, 50, 100, 150) g/mL. Dilakukan penambahan 250µL DPPH 0,4 mM dan methanol sampai 1000µL (1mL), selanjutnya campuran dhomogenkan dan dibiarkan selama 20 menit. Larutan ini selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang 511 nm. Dilakukan juga pengukuran absorbansi blanko. Hasil penetapan antioksidan dibandingkan dengan vitamin C (asam askorbat), hal ini dilakukan karena vitamin C merupakan antioksidan yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat.
6.       
30
Analisis Kadar NaCl
Ditimbang sampel (telur asin) yang sudah dihaluskan sebanyak 5 gram, masukkan dalam gelas kimia. Ditambahkan aquades 30 mL dan dipanaskan sebentar agar semua larut dan terpisah dari lemaknya (jangan sampai mendidih), dinginkan, kemudian dimasukkan dalam labu takar 100 mL secara kuantitatif dan ditambah dengan aquades sampai tanda batas, dihomogenkan sampai rata. Disaring dengan kertas saring sampai didapatkan difiltrat yang jernih. Dipipet filtrat tersebut 5,0 mL, dimasukkan dalam erlenmeyer 100 mL. Ditambah larutan K2CrO4 5% sebanyak 0,5 mL. Dititrasi dengan larutan AgNO3 standar 0,05 N sampai terbentuk endapan berwarna merah bata yang muda.

H.      Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Data dan teknik pengumpulan data dalam penelitian antioksidan alami pada telur asin yang ditambah ekstrak buah dengan metode DPPH. Besarnya daya antioksidan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
Abs. Blanko : Serapan radikal DPPH pada panjang gelombang 511 nm.
Abs. Sampel : Serapan sampel dalam radikal DPPH pada panjang gelombang 511nm
31
Setelah diperoleh hasil persen antioksidan, maka selanjutnya dibuat grafik terhadap konsentrasi larutan uji atau pembanding. Kemudian dari grafik tersebut dibuat regresi linier dengan persamaan:
y = a + b x
Keterangan :
y : absorbansi                    x : konsentrasi (ppm)
a : intersep                         b : slope
Nilai IC50 sebagai parameter aktivitas antioksidan dihitung dengan menggunakan persamaan regresi. Persamaan ini diperoleh dengan memasukkan nilai IC50 larutan uji dan larutan pembanding pada y sehingga diketahui nilai konsentrasi efektifnya. Sebagai kontrol positif dan sebagai pembanding digunakan asam askorbat (vitamin C).
Perhitungan kadar NaCl yaitu sebagai berikut :
.
Keterangan :
V   : Volume AgNO3 yang digunakan untuk titrasi sampel
N   : Normalitas AgNO3
P    : Pengenceran sampel
58,5 : BM NaCl


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
Sampel telur asin yang telah dimasak, dibiarkan dingin, lalu ambil isinya. Sampel dihaluskan, lalu dikeringkan, setelah kering sampel diuji aktivitas antioksidan dan kadar natrium klorida (kadar garam).
Pengujian aktivitas antioksidan pada penelitian ini menggunakan metode DPPH, dengan konsentrasi ekstrak sebasar 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, dan 150 ppm. Pada penelitian ini digunakan vitamin C sebagai kontrol positif dan sebagai  pembanding (dengan variasi konsentrasi yang sama). Data hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel 4.1, 4.2, 4.3 dan 4.4.
Tabel 4.4 Kadar NaCl dengan titrasi AgNO3

Pengulangan
Air
Abu Gosok
Dedak
1.
2.
I
II
5
4
3
2
2
2
Rata – Rata
4,5
2,5
2





33
Tabel 4.2 Hubungan antara kadar sampel telur ditambah buah naga dengan daya antioksidan dengan metode DPPH.
Kadar EkstrakSampel (µg/ml)(x)
AktivitasAntioksidan (%)(y)
Persamaan Regresi Linier
0
0.00
y = 4.475+0.083x
IC50 = 548.49

50
10.69
100
7.13
150
2.57

Tabel 4.3 Hubungan antara kadar sampel telur ditambah buah jeruk dengan daya antioksidan dengan metode DPPH.
Kadar EkstrakSampel (µg/ml)(x)
Aktivitas Antioksidan (%)(y)
Persamaan Regresi Linier
0
0.00
y = 3.628+ 0.00766x
IC50 = 6.053,78
50
9.46
100
4.38
150
2.97

Tabel 4.4 Hubungan antara kadar vitamin C dengan daya antioksidan       dengan metode DPPH.
Kadar Vitamin C (µg/ml)(x)
AktivitasAntioksidan (%)(y)
PersamaanRegresi Linier
0
0.00
y = 14.374+0.22468x
IC50 = 158.56
50
45.69
100
39.80
150
39.41




B.      
34
Pembahasan
Pada penelitian ini yang berjudul analisis aktivitas antioksidan ekstrak buah naga dan jeruk dan absorpsi natrium klorida dengan variasi media pengasinan telur itik. Tujuan dari proses pengasinan adalah untuk mencegah kerusakan dan pembusukan telur serta memberi citarasa khas dari telur. Pengasinan telur juga banyak menghasilkan keuntungan antara lain mudah untuk dilakukan, biayanya murah, praktis, serta dapat meningkatkan kesukaan konsumen. Manfaat dari penambahan ekstrak buah adalah agar menghilangkan bau amis pada telur, menambah zat gizi serta menambah aktivitas antioksidan pada telur asin.
Pengujian absorpsi NaCl  pada penelitian ini dengan metode argentometri mohr yaitu dengan cara titrasi dimana larutan AgNO3 standar 0,05 N sebagai titran, sedangkan sampel sebagai titratnya. Hasil penentuan kadar NaCl pada telur asin hasil olahan dengan variasi media pengasinan yaitu air, dedak, dan abu gosok.
Telur asin pada media air mempunyai kadar NaCl yang besar yaitu sebesar 2,63%  karena garam yang masuk ke dalam telur berjalan secara difusi yang didorong oleh adanya tekanan osmotik, sehingga semakin besar konsentrasi garam di dalam telur. Telur asin pada media abu gosok mempunyai kadar NaCl yang kecil yaitu sebesar 1,46% karena garam yang masuk ke dalam telur berjalan lambat karena garam harus melewati abu gosok terlebih dahulu setelah itu baru menyerap ke dalam telur sehingga tekanan
35
osmotik yang dihasilkan rendah menyebabkan konsentrasi garam masuk ke dalam telur kecil.
Telur asin pada media dedak mempunyai kadar NaCl yang sangat kecil yaitu sebesar 1,17%, garam yang masuk ke dalam telur berjalan sangat lambat karena garam harus melewati dedak menyebabkan kecepatan difusi larutan garam yang masuk ke dalam telur akan semakin kecil sehingga tekanan osmotik yang dihasilkan rendah menyebabkan konsentrasi garam masuk ke dalam telur kecil. Jadi, kadar terbesar NaCl pada variasi media yaitu media air, selanjutnya media abu gosok dan kadar terkecil NaCl terletak pada media dedak.
Secara standar adanya NaCl dalam telur asin ini memang belum dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Indonesia, akan tetapi sebenarnya sudah banyak produk bahan berasa asin yang telah distandardisasi seperti, mentega, kecap asin, sarden dan masih banyak produk lainnya yaitu dengan besaran kadar NaCI 2–4% b/b. Berasumsi bahwa produk telur asin merupakan produk makanan yang berasa asin maka standar produk bahan berasa asin (mentega, kecap asin, sarden,dan lain- lain)   dapat digunakan sebagai acuan. Sehingga tidak melebihi ambang batas dari kadar NaCl yang telah ditentukan pada produk makanan. Hal ini berarti bahwa absorpsi NaCl pada telur asin masih dikatakan aman bagi konsumen yang mengkonsumsi telur asin bahkan bagi yang mengidap penyakit hipertensi karena kadar NaCl tidak lebih dari kisaran 2 – 4%.

36
Berdasarkan kadar natrium klorida yang tertinggi, maka penambahan ekstrak buah naga dan buah jeruk menggunakan media air. Konsentrasi telur asin yang ditambah ekstrak buah naga menggunakan media air pada semua konsentrasi diperoleh absorbansi sebesar 0,451. Apabila dibandingkan dengan vitamin C dengan konsentrasi yang sama, aktivitas antioksidan sampel lebih rendah. Nilai IC50 yang terdapat pada sampel telur lebih besar dibandingkan nilai IC50 vitamin C yaitu dengan nilai IC50 ekstrak buah naga sebesar 548,49 µg/mL sedangkan nilai IC50 vitamin C adalah sebesar 158,56 µg/mL, karena nilai IC50 berbanding terbalik dengan besar aktivitas antioksidan, semakin kecil nilai IC50 berarti semakin kuat daya antioksidannya.
Nilai IC50 merupakan konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentasi suatu zat antioksidan yang memberikan persentase penghambatan sebanyak 50%. Nilai IC50 berbanding terbalik dengan besar aktivitas antioksidan, semakin kecil nilai IC50 berarti semakin kuat daya antioksidannya.
Terdapat aktivitas antioksidan yang juga ditandai dengan terjadinya perubahan warna dari ungu menjadi kuning bening yang berarti sampel tersebut mampu meredam radikal bebas dari DPPH, akan tetapi sampel yang ditambah ekstrak buah naga tidak terjadi perubahan warna dari ungu menjadi kuning bening(tetap berwarna ungu) yang berarti sampel tersebut tidak mampu meredam radikal dari DPPH. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.

37
Sampel ditambah ekstrak buah naga dengan metode DPPH mempunyai aktivitas antioksidan yang rendah dan bahkan jauh dari aktivitas antioksidan dari vitamin C, hal ini dikarenakan nilai IC50 sebesar 548,49 µg/mL(ppm) yaitu IC50 yang diperoleh berkisar  antara 200–1000 ppm, maka zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat antioksidan.
Telur asin yang ditambah buah jeruk pada semua konsentrasi diperoleh absorbansi sebesar 0,641. Apabila dibandingkan dengan vitamin C dengan konsentrasi yang sama, aktivitas antioksidan sampel lebih rendah. Nilai IC50 yang terdapat pada sampel telur lebih besar dibandingkan nilai IC50 vitamin C yaitu nilai IC50 ekstrak buah jeruk sebesar 6053,78 µg/mL, sedangkan nilai IC50 vitamin C adalah sebesar 158,56 µg/mL, karena nilai IC50 berbanding terbalik dengan besar aktivitas antioksidan, semakin kecil nilai IC50 berarti semakin kuat daya antioksidannya.
Sampel ditambah ekstrak buah jeruk dengan metode DPPH mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat rendah dan bahkan nilainya sangat jauh dari aktivitas antioksidan dari vitamin C, hal ini dikarenakan nilai IC50 sebesar 6053,78 µg/mL(ppm) yaitu IC50 yang diperoleh berkisar  diatas kisaran 200–1000 ppm, maka zat tersebut sangat tidak aktif sebagai zat antioksidan.


BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.      Telur asin pada media air mempunyai kadar NaCl sebesar 2,63%. Telur asin pada media abu gosok mempunyai kadar NaCl sebesar 1,46%. Telur asin pada media dedak mempunyai kadar NaCl sebesar 1,17%.
2.      Telur asin yang ditambah ekstrak buah naga mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih rendah dari aktivitas antioksidan vitamin C, sehingga zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat antioksidan. Telur asin yang ditambah ekstrak buah jeruk mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat rendah dan bahkan nilainya sangat jauh dari aktivitas antioksidan dari vitamin C, sehingga zat tersebut sangat tidak aktif sebagai zat antioksidan.
B.     Saran
Dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan sebaiknya:
1.      Menggunakan panjang gelombang yang nilai absorbansi kecil, jika nilai absorbansinya kecil maka hasil dari IC50 juga kecil sehingga mampu dijadikan antioksidan.
2.     
39
Menggunakan buah jeruk dan buah naga yang segar, selain itu setelah di suntikkan buah diharapkan segera di uji aktivitas antioksidannya agar tidak menghasilkan nilai IC50 yang sangat tinggi.
3.      Perlu penelitian lebih lanjut mengenai kadar natrium klorida yang terkandung pada telur lainnya misalnya telur ayam maupun telur puyuh.



DAFTAR PUSTAKA


Adi, W, 2012, Kandungan nutrisi dan manfaat Buah, http://nutrisiuntukbangsa. org/buah-kandungan-nutrisi-dan-manfaatnya.
Admin, 2011, Kalori Gizi Umum Telur Rebus, http://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/telur-rebus
_____, 2013, Manfaat Khasiat Buah Jeruk,  http://manfaatdaunobat.blogspot.  com/2013/08/manfaat-khasiat-buah-jeruk-untuk.html
_____,2010, Antioksidan Alami Disekitar Kita, http://www.obatherbalalami. com/2010/10/antioksidan-alami-di-sekitar-kita.html
Ahli Herbal, 2010, Kandungan Nutrisi dalam Telur, http://ahliherbal.com/jurnal/ kandungan-nutrisi-dalam-telur-369.html
Akaruicha, 2011, Zat Aditif Antioksidan, http://akaruicha.blogspot.com  /2011/10/ zat-aditif-antioksidan.html
Damayanti, A, 2008, Sifat Fisik, Kimia dan Organoleptik Telur Asin yang direndam pada konsentrasi Garam dan Umur Telur yang Berbeda, Skripsi Institut Pertanian Bogor: Bogor
Day, R.A dan Underwood, A.L, 1983, Analisa Kimia Kuantitatif, Jakarta: Erlangga
Departemen Kesehatan RI, 1995, Pedoman Kesehatan pada Bahan Makanan, Jakarta : Depkes RI
Edhi, S, 2011, Metode Uji Aktivitas Antioksidan Radikal 11-Difenil-2-Pikrilhidrazil-DPPH,http://edhisambada.wordpress.com/2011/02/22/ metode -uji-aktivitas-antioksidan-radikal-11-difenil-2-pikrilhidrazil-dpph/
Haryoto, 1996, Membuat Telur Asin, Yogyakarta : Kanisius
Ionita P, 2003, Is DPPH Stable Free Radical A Good Scavenger For Oxygen Active Species. Chem Pap 59: 11-16
Kompas, 2013, Kenali Kandungan Gizi Dalam Telur,   http://health.kompas.com /read/2013/09/02/1415478/Kenali.Kandungan.Gizi.dalam.Telur
Mahayana, A dan Nur,H, 2010, Modifikasi Teknologi Pengasinan Telur Melalui Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji dan Pasir terhadap Absorpsi Garam NaCl, Universitas Setia Budi Surakarta ; Surakarta
Molyneux P, 2004, The Use Of Stable Free Radical Dyphenilpicryl-Hydrazil (DPPH) For Estimating Antioxidant Activity. J.Sci. Technol: 211-219.
Permathic, 2012, Kandungan dan Manfaat Jeruk, http://permathic.blogspot.com /2012/04/kandungan-dan-manfaat-jeruk.html
Prakash, A., Rigelhof, F., dan Miller, E., 2010, Antioxidant Activity, http://www.medallionlabs.com.
Robert K. M, et al. (2003). Biokimia Harper. Buku Kedokteran : Jakarta.
Suryatno, H, Basito,  Esti Widowati, Kajian Organoleptik, Aktivitas Antioksidan, Total Fenol Pada Variasi Lama Pemeranan Pembuatan Telur Asin Yang Ditambah Ekstrak Jahe, Jurusan  Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Sebelas Maret : Surakarta
Wikipedia, 2010, Antioksidan, http://id.wikipedia.org/wiki/Antioksidan
________, 2011, Buah Naga, http://id.wikipedia.org/wiki/Buah Naga
________, 2012, Telur, http://id.wikipedia.org/wiki/Telur

1 komentar:

  1. How do you chop and cut a stainless steel structure with
    3. Set up a stainless steel core with an titanium chords edge grade 5 titanium of 2.5 mm on the top, the end of the bottom portion of titanium nail the bottom edge and the top half. the base titanium trim reviews of the bottom columbia titanium pants end and

    BalasHapus