BAB
I
PENDAHULUAN
Telur
adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah
dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya
murah. Harga telur yang murah, akan tetapi kualitas dari telur tersebut juga
harus segar dan kondisinya bagus dimana kondisi luarnya baik, bentuk kulit
tebal, tidak dalam keadaan retak atau pecah, tekstur permukaan dan warnanya
bagus serta bersih, mempunyai rongga udaranya kecil, kuning telur ditengah, dan
tidak terdapat bercak atau noda darah. Kondisi telur tersebut dapat diketahui
dengan cara merendamnya dalam air bersih.
Masyarakat
pada umumnya memanfaatkan telur sebagai lauk dengan mengolahnya menjadi telur
dadar, telur rebus, bahan pencampur berbagai makanan, adonan kue, obat, dan
lain sebagainya. Selama ini telur asin banyak dikonsumsi dengan pengolah telur
asin biasa, hal ini dikarenakan belum banyak produsen telur yang membuat sebuah
variasi rasa yang berbeda. Cara lain untuk membuat telur asin dengan variasi
rasa yang berbeda maka dilakukan dengan penambahan unsur rasa pada proses
pembuatannya. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat telur asin
dengan rasa lain adalah dengan menambahkan aneka macam buah. Penambahan aneka
macam buah tidak hanya meningkatkan aneka macam rasa akan tetapi diarahkan
menjadi produk pangan yang fungsional. Produk pangan yang fungsional harus
mengandung komponen senyawa yang bermanfaat bagi tubuh manusia seperti senyawa
antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.
2
|
Pengasinan
adalah sebagai salah satu upaya untuk mengawetkan telur atau memperpanjang masa
simpan, mengurangi rasa amis dan menciptakan rasa yang khas. Ada dua cara yang
dapat digunakan untuk membuat telur asin yaitu perendaman dalam larutan garam
jenuh dan pemeraman dengan dua jenis adonan yaitu menggunakan dedak padi dan
abu gosok. Masing-masing cara akan memberikan hasil yang berbeda satu sama
lainnya.
Berdasarkan
ketentuan tersebut, maka penulis berkeinginan untuk melaksanakan penelitian “Analisis
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Naga dan Jeruk dan Absorpsi Natrium Klorida dengan
Variasi Media Pengasinan Telur Itik”.
B.
3
|
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Berapakah
kadar natrium klorida yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur itik?
2. Bagaimana
uji aktivitas antioksidan terhadap telur asin yang ditambah ekstrak buah naga
dan jeruk?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui kadar natrium klorida
yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur itik.
2.
Untuk mengetahui aktivitas antioksidan
terhadap telur asin yang ditambah ekstrak buah naga .
D.
Manfaat
Penelitian
1. Menambah
pengalaman praktik dan teoritis bagi peneliti khususnya pada pembuatan telur
dengan variasi media pengasinan telur asin yang ditambah ekstrak buah.
2. Memberikan
informasi kepada masyarakat tentang penambahan ekstrak buah terhadap aktivitas
antioksidan dengan variasi media pengasinan telur asin dan kadar natrium
klorida yang terabsorpsi dengan variasi media pengasinan telur asin yang
ditambah ekstrak buah.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Telur
1. Definisi Telur
Telur adalah salah satu bahan makanan hewani yang dikonsumsi selain daging, ikan dan susu. Telur yang dikonsumsi umumnya berasal dari
jenis-jenis burung, seperti ayam, bebek, dan angsa, akan tetapi telur-telur yang lebih kecil
seperti telur ikan kadang juga digunakan sebagai campuran dalam hidangan (kaviar). Telur yang dikonsumsi ada juga yang
berukuran besar seperti telur burung unta (Kasuari) ataupun sedang misalnya telur penyu.
Produk telur ayam sebagian besar ditujukan untuk
dikonsumsi orang yang tidak disterilkan, mengingat ayam petelur yang menghasilkannya tidak didampingi oleh ayam pejantan. Telur yang disterilkan dapat pula dipesan
dan dimakan sebagaimana telur-telur yang tidak disterilkan, dengan sedikit
perbedaan kandungan nutrisi. Telur yang disterilkan tidak akan mengandung embrio yang telah berkembang, sebagaimana lemari pendingin mencegah pertumbuhan sel-sel dalam telur.
2. Kandungan Gizi Telur
Telur mengandung berbagai vitamin
dan mineral, termasuk vitamin A, riboflavin, asam folat, vitamin B6, vitamin
B12, kolin, besi, kalsium, fosfor dan potasium. Telur ayam juga merupakan
makanan termurah sumber protein yang lengkap. Satu butir telur ayam berukuran
besar mengandung sekitar 7 gram protein.
Telur sering dijadikan standar emas sebagai pembanding sumber protein lainnya.
Kandungan asam aminonya, sekitar 6 gram protein dalam telur lebih gampang diserap
dan dipergunakan tubuh secara efisien. Telur juga hanya mengandung 74 kalori.
5
|
Satu kuning telur juga mengandung
separuh jumlah kolin harian yang dianjurkan. Kolin merupakan nutrisi yang
penting untuk perkembangan otak dan juga sangat penting untuk wanita hamil dan
menyusui untuk memastikan perkembangan otak janin. Telur juga mengandung Lutein dan Zeaxanthin dimana kedua zat
tersebut juga penting yang ditemukan dalam sayur dan bayam ini juga terdapat
pada kuning telur. Fungsinya antara lain mencegah kerusakan mata, terutama
katarak dan degenerasi makula. Kandungan lutein dan zeaxanthin dalam telur
lebih sedikit daripada pada sayuran hijau, akan tetapi fitokemikal ini lebih gampang
diserap tubuh karena berada dalam lemak di kuning telur.
6
|
3.
Daya Tahan Telur
Telur
komersial pada umumnya dapat tahan antara 3 minggu sampai 1 bulan. Daya tahan
tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor seperti cuaca atau suhu dan kualitas
telur menentukan umur telur layak dikonsumsi. Suhu lingkungan berpengaruh,
semakin panas suhu di suatu wilayah maka semakin pendek umur telur. Faktor
kedua adalah kualitas telurnya, seperti telur merah dan telur putih kualitasnya
berbeda jauh. Telur merah bisa bertahan sampai 1 bulan sedangkan telur putih
hanya 15 hari. Sebelum dipasarkan sebaiknya telur tidak dicuci, bila dicuci
telurnya justru cepat busuk. Telur yang dicuci sangat tidak dianjurkan karena
membuat jadi sangat cepat rusak. Pori-pori telur bisa terbuka lebar dan bakteri
bisa masuk lewat sana. Telur yang dicuci hanya bisa bertahan maksimal 2–3 hari
dan harus segera dimasak.
B.
Telur Asin
1. Definisi Telur Asin
Telur asin adalah istilah umum
untuk masakan berbahan dasar telur
yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk
menonaktifkan enzim
perombak). Telur yang banyak diasinkan adalah telur itik,
walaupun tidak menutup kemungkinan untuk telur–telur yang lain. Telur asin baik
dikonsumsi dalam waktu satu bulan
(30 hari).
7
|
Gambar 1. Telur Itik
2. Proses Pembuatan Telur Asin
Proses
pembuatan telur asin pada dasarnya ada beberapa cara, namun kebanyakan orang
lebih memilih dengan cara direndam atau di balut dalam adonan garam dicampur
dengan serbuk bata merah, tanah liat, atau abu gosok, selain itu ada juga yang
merendamnya dengan cairan teh bercampur dengan adonan garam. Semua cara dalam
hal ini bertujuan sama yaitu membuat telur itik menjadi telur yang berasa asin,
akan tetapi ada juga yang mencoba membuat telur asin dengan ditambahkan rasa
jahe, rasa jeruk, bahkan rasa cabai ke dalam larutan garamnya, sehingga rasa
telur tersebut tidak hanya asin, melainkan berpadu dengan rasa lain yang telah
ditambahkan kedalam adonan garam tersebut.
Pembuatan telur asin merupakan
diversifikasi dari usaha pemeliharaan bebek petelur. Pengembangan usaha ini, bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan ganda dan menyadari kalau menjual telur yang
diasinkan lebih menguntungkan, karena harga telur asin lebih tinggi
dibandingkan telur biasa. Orang yang gemar telur asin semakin banyak, oleh sebab itu
diharapkan peternak tidak hanya menekuni satu bidang usaha/beternak saja,
tetapi membuat telur asin juga. Hasilnya akan lebih berlipat ganda, peternak bisa
menjual telur segar dan telur asin.
8
|
3. Variasi Pengasinan Telur Asin
Pengasinan telur adalah salah satu cara pengawetan yang
banyak dilakukan oleh masyarakat. Tujuan dari proses pengasinan ini adalah
untuk mencegah kerusakan dan pembusukan telur serta memberi citarasa khas dari
telur. Pengasinan telur juga banyak menghasilkan keuntungan antara lain mudah
untuk dilakukan, biayanya murah, praktis, serta dapat meningkatkan kesukaan
konsumen.
Metode pengolahannya ada dua cara yang digunakan yaitu perendaman
dengan menggunakan larutan garam jenuh dan pembalutan dengan mencampur garam,
serbuk bata merah, serbuk gergaji, dedak dan abu gosok. Pembuatan telur asin
dengan menggunakan metode perendaman dalam larutan garam jenuh sangat mudah dan
praktis. Keunggulan telur asin dengan perendaman adalah prosesnya singkat,
sedangkan dengan cara pembalutan prosesnya rumit dan perlu kesabaran dalam
pembalutannya.
Mekanisme
yang terjadi pada pengasinan adalah penetrasi garam dengan cara difusi setelah
garam mengion menjadi ion Na+ dan Cl-. Kedua ion tersebut
berdifusi ke dalam telur melalui lapisan kutikula, bunga karang, lapisan
mamilaris, membran kulit telur, putih telur, membran vitelin dan yang terakhir
adalah kuning telur. Laju difusi mendapat hambatan dari lapisan kapur yang
terdapat pada kerabang telur serta lapisan lemak pada kuning telur. Larutan
garam yang berdifusi ke dalam telur disebabkan oleh terdapatnya pori–pori pada
kerabang telur dan konsentrasi larutan garam NaCl. Difusi ini biasa disebut
dengan osmosis.
9
|
4. Pemilihan Telur Asin
Kondisi telur yang secara pasti akan
diasinkan, maka perlu dilakukan pemeriksaan sekaligus pemilihan(sortasi).
Namun, harus dipastikan terlebih dahulu bahwa telur-telur yang akan diperiksa
tersebut merupakan telur yang belum pernah dierami sama sekali, sehingga
kemungkinan adanya janin didalamnya dapat dihindari. Disamping itu, harus
dihindari juga penggunaan telur yang telah mengalami keretakan atau pecah
kulit, karena selama dalam perendaman putih telurnya akan menerobos keluar dan
membuat larutan perendamannya berbau busuk.
Pemeriksaan dilakukan dengan
memasukan telur-telur tersebut kedalam suatu wadah atau bak plastik yang telah
diisi dengan air, kemudian mengamati posisi telur telur etrsebut didalam air.
Telur yang melayang. harus segera dipisahkan, sedangkan telur yang tengelam
atau yang setengah melayang dibiarkan terendam beberapa saat sehingga kotorannya
mudah dibersihkan. Telur-telur yang baik tersebut, kemudian dicuci dengan sabun
dan dibilas dengan air hingga benar-benar bersih, serta ditiriskan.
10
|
a.
Kelompokkan
telur berdasarkan tingkat kebersihannya. kemudian bersihkan mulai dari kelompok
kotor kemudian kelompok yang sangat kotor.
b.
Telur
yang kurang kotor dapat dibersihkan dengan kain/busa halus yang kering atau
ampelas. Telur yang kotor dan sangat kotor ditempatkan diwadah terpisah dan
dibersihkan dengan cara merendamnya dalam air detergen hangat selama 2 menit
untuk melepaskan kotoran yang sudah mengering.
c.
Teropong
telur yang sudah kering. Perhatikan keutuhan kerabang, keadaan isi telur dan
rongga udaranya. Pilihlah telur yang kerabangnya utuh/tidak retak dan isi telur
terlihat bersih serta memiliki rongga udara lebih kecil.
C.
Antioksidan
1.
Definisi Antioksidan
Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah
proses oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau
menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi
rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit,
radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya. Radikal bebas adalah spesies
yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan
dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi. Protein lipida dan DNA dari sel manusia yang
sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat
menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya.
11
|
2. Jenis Antioksidan
Komponen kimia yang berperan sebagai
antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa
golongan tersebut banyak terdapat dialam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan
memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak
ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid.
a.
Hal Penting Mengenai Uji
Antioksidan
Antioksidan diharapkan aman dalam
penggunaan atau tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%),
tersedia dengan harga cukup terjangkau, dan tahan terhadap proses pengolahan
produk. Antioksidan penting dalam melawan radikal bebas, tetapi dalam kapasitas berlebih menyebabkan kerusakan sel.
b.
Sumber Antioksidan
Berdasarkan asalnya, antioksidan
terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar
tubuh (eksogen). Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu
mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Stres oksidatif merupakan keadaan
saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen reaktif. Oleh karena itu,
diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.
c.
12
|
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan
menjadi antioksidan primer yang
dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil
, dan antioksidan sekunder atau
antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta antioksidan tersier.
Mekanisme kerja antioksidan selular menurut Ong et al.(1995) antara lain,
antioksidan yang berinteraksi langsung dengan oksidan,
radikal bebas, atau oksigen tunggal, mencegah pembentukan jenis oksigen
reaktif, mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang toksik, mencegah kemampuan oksigen
reaktif, dan memperbaiki kerusakan yang timbul.
3.
Uji Aktivitas Antioksidan
Uji
Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH. Pada tahun
1922, Goldschmidt dan Renn menemukan senyawa berwarna ungu radikal bebas stabil
DPPH, yang sekarang digunakan sebagai reagen kolorimetri untuk proses redoks.
DPPH sangat berguna dalam berbagai penyelidikan seperti inhibisi atau radikal
polimerisasi kimia, penentuan sifat antioksidan amina, fenol atau senyawa alami
(vitamin, ekstrak tumbuh-tumbuhan, obat–obatan) dan untuk menghambat reaksi
homolitik. DPPH
13
|
DPPH
merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar dan sering digunakan untuk
mengevaluasi aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau ekstrak bahan alam.
DPPH menerima elektron atau radikal hidrogen akan membentuk molekul diamagnetik
yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron
atau radikal hidrogen pada DPPH, akan menetralkan radikal bebas dari DPPH dan
membentuk DPPH tereduksi. Jika semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi
berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan
absorbansi pada panjang gelombang 517 nm akan hilang. Perubahan ini dapat
diukur sesuai dengan jumlah elektron atau atom hidrogen yang ditangkap oleh
molekul DPPH akibat adanya zat reduktor (Molyneux, 2004).
Molyneux
(2004) menyatakan bahwa suatu zat mempunyai sifat antioksidan bila nilai IC50
kurang dari 200 ppm. Bila nilai IC50 yang diperoleh berkisar antara
200-1000 ppm, maka zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat
antioksidan. Rumus molekul DPPH dapat dilihat pada Gambar 2.1.
14
|
Gambar 2. Rumus Bangun DPPH
Keterangan:
a. bentuk
radikal DPPH
b. bentuk
nonradikal (DPPH-H)
Senyawa
antioksidan mempunyai sifat yang relatif stabil dalam bentuk radikalnya.
Senyawa-senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan dapat diprediksi dari
golongan fenolat, flavonoida dan alkaloida yang merupakan senyawa-senyawa
polar. Aktivitas antioksidan merupakan kemampuan suatu senyawa atau ekstrak
untuk menghambat reaksi oksidasi yang dapat dinyatakan dengan persen
penghambatan (Brand-Williams, 1995).
Resonansi
DPPH dan reaksi DPPH dengan atom H netral yang berasal dari senyawa-senyawa
yang bersifat antioksidan dapat dilihat pada Gambar 3 dan Gambar 4.
15
|
Gambar
3. Resonansi DPPH (1,1-
diphenyl-2-picrylhydrazyl)
Gambar
4. Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal
dari antioksidan.
Parameter
yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan adalah harga konsentrasi
efisien atau efficient concentration (EC50) atau Inhibition
Concentration (IC50) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidan
yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi
suatu zat antioksidan yang memberikan persen penghambatan 50%. Zat yang
mempunyai aktivitas antioksidan tinggi, akan mempunyai harga EC50
atau IC50 yang rendah (Brand-Williams, 1995).
1.
Pelarut
Metode ini akan
bekerja dengan baik menggunakan pelarut metanol atau etanol dan kedua pelarut
ini tidak mempengaruhi dalam reaksi antara sampel uji sebagai antioksidan
dengan DPPH sebagai radikal bebas (Molyneux, 2004).
2.
16
|
Panjang gelombang
maksimum (λmaks) yang digunakan dalam pengukuran uji sampel uji
sangat bervariasi. Menurut beberapa literatur panjang gelombang maksimum untuk
DPPH antara lain 515 nm, 516 nm, 517 nm, 518 nm, 519 nm dan 520 nm. Pada
prakteknya hasil pengukuran yang memberikan peak maksimum itulah panjang
gelombangnya yaitu sekitar panjang gelombang yang disebutkan diatas. Nilai
absorbansi yang mutlak tidaklah penting, karena panjang gelombang dapat diatur
untuk memberikan absorbansi maksimum sesuai dengan alat yang digunakan
(Molyneux, 2004).
3.
Waktu Reaksi
Pada metode sebelumnya waktu reaksi yang
direkomendasikan adalah 30 menit, dan sudah sering dilakukan. Waktu yang paling
cepat yang pernah digunakan, 5 menit atau 10 menit. Kenyataannya waktu reaksi
yang benar adalah ketika reaksi sudah mencapai kesetimbangan. Kecepatan reaksi
dipengaruhi oleh sifat dari aktivitas antioksidan yang terdapat di dalam sampel
(Molyneux, 2004).
D.
17
|
1.
Definisi Jeruk
Jeruk atau limau adalah semua tumbuhan berbunga
anggota marga Citrus dari suku Rutaceae (suku
jeruk-jerukan). Anggotanya berbentuk pohon dengan buah yang berdaging dengan rasa masam
yang segar, meskipun banyak di antara anggotanya yang memiliki rasa manis. Rasa
masam berasal dari kandungan asam sitrat yang memang
menjadi terkandung pada semua anggotanya.
Sebutan "jeruk" kadang-kadang juga disematkan pada beberapa
anggota marga lain yang masih berkerabat dalam suku yang sama, seperti kingkit. Dalam
bahasa sehari-hari, penyebutan "jeruk" atau "limau" (di
Sumatra dan Malaysia) seringkali berarti "jeruk keprok" atau "jeruk manis". Di
Jawa, "limau" (atau "limo") berarti "jeruk nipis".
Jeruk sangatlah beragam dan beberapa spesies dapat
saling bersilangan dan menghasilkan hibrida
antarspesies ('interspecific hybrid) yang memiliki karakter yang khas,
yang berbeda dari spesies tetuanya. Keanekaragaman ini seringkali menyulitkan
klasifikasi, penamaan dan pengenalan terhadap anggota-anggotanya, karena orang
baru dapat melihat perbedaan setelah bunga atau buahnya muncul. Akibatnya tidak
diketahui dengan jelas berapa banyak jenisnya. Penelitian-penelitian terakhir
menunjukkan adalah keterkaitan kuat Citrus dengan genus Fortunella
(kumkuat), Poncirus, serta Microcitrus dan Eremocitrus,
sehingga ada kemungkinan dilakukan penggabungan. Citrus sendiri memiliki
dua anak marga (subgenus), yaitu Citrus dan Papeda.
18
|
Gambar 5. Buah Jeruk
2.
Kandungan Gizi Jeruk
Jeruk yang dikenal
sebagai buah yang sangat segar dan bergizi merupakan sumber vitamin C dan
mengandung banyak serat buah yang akan sangat berguna bagi kestabilan tubuh.
Selain kandungan vitamin C juga mengandung vitamin B6 (Pyridoxine), vitamin B1
(Thiamin), vitamin B2 (Riboflavin), vitamin B3 (macin), vitamin B5 (asam
pantotenat), asam folat, magnesium, karbohidrat, serat buah, kalsium, potasium,
senyawa fitokimia, fosfor, tembaga, lemak, air, belerang, dan besi. Komposisi
atau kandungan gizi pada jeruk per 100 gram jeruk manis adalah sebagai berikut
: besi 0,4 mg, tembaga 45 Kkal, fosfor 23 mg, kalsium 33 mg, karbohidrat 11 gr,
lemak 0,2 gr, protein 0,9 gr, vitamin A sebanyak 19 µ, vitamin B1 sebanyak 0,08
mg, vitamin C 49 mg, serta air yang banyak terkandung dalam jeruk.
19
|
Gambar 6.
Rumus bangun vitamin C
Vitamin C
atau asam askorbat mempunyai berat molekul 176,13 dengan rumus molekul C6H8O6.
Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% C6H8O6.
Pemerian vitamin C adalah hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh
pengaruh cahaya lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil
di udara, dalam larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190oC.
Kelarutan vitamin C mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol,
praktis tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene (DepKes RI,
1995).
Struktur
asam askorbat sangat mirip dengan glukosa, dari glukosa inilah asam askorbat
diturunkan pada sebagian besar mamalia. Meski demikian, pada primata, termasuk
manusia dan sejumlah hewan lain, misalnya marmut, sebagian kelelawar, burung,
ikan, serta invertebrata. Tidak ada enzim L–gulonolakton oksidase akan mencegah
sintesis tersebut.
O = C
HO – C – H O
HO – C – H
H – C
HO – C – H
CH2OH
Gulonolakton
|
O = C
C – OH O
C – OH*
H – C
HO – C – H
CH2OH
Asam
Askorbat
|
[2H]
|
O = C
C = O O
C = O
H – C
HO – C – H
CH2OH
Asam dehidroaskorbat
|
20
|
Enzim
tidak ada
pada primatadan marmut
Gambar 7. Asam askorbat, sumbernya pada mamalia selain primata dan marmut,
serta oksidanya menjadi asam dehidroaskorbat (tanda bintang: terionisasi di
dalam askorbat) (Robert K. M, et al, 2003)
Vitamin C berkhasiat sebagai
antiskorbut maka dinamakan asam skorbut atau vitamin C. Vitamin C berkerja
sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan reduktor dan
antioksidan. Vitamin C berperan juga dalam proses pembentukan kolagen. Angka
Kecukupan Gizi (AKG) vitamin C adalah sekitar 35 mg untuk bayi dan 60 mg pada
orang dewasa.
3.
Zat Antioksidan
Vitamin C pada buah jeruk
merupakan antioksidan yang sangat di butuhkan oleh kulit, di mana ia membantu
menetralkan radikal bebas yang menumpuk akibat paparan sinar matahari dan usia.
E.
21
|
1.
Definisi Buah Naga
Buah naga (Inggris: pitaya)
adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah ini
berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan namun
sekarang juga dibudidayakan di negara-negara Asia seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia dan Malaysia. Buah ini
juga dapat ditemui di Okinawa, Israel, Australia utara dan Tiongkok selatan. Hylocereus
hanya mekar pada malam hari.
Pada tahun 1870 tanaman ini dibawa orang Perancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias.
Orang Vietnam dan orang Cina buahnya dianggap membawa berkah, oleh sebab itu,
buah ini selalu diletakkan diantara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar. Warna merah
buah terlihat mencolok di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan
inilah buah itu di kalangan orang Vietnam yang sangat
terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Istilah
Thang loy kemudian diterjemahkan di Eropa dan negara lain yang berbahasa
Inggris sebagai dragon fruit (buah naga).
22
|
Gambar 8. Buah naga
2.
Kandungan Buah Naga
Buah
naga biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga,
karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90% dari berat buah.
Rasanya cukup manis karena mengandung kadar gula mencapai 13-18 briks. Buah
naga juga dapat disajikan dalam bentuk jus, sari buah, manisan maupun selai atau
beragam bentuk penyajian sesuai selera anda. Secara umum, pakar sependapat dan
mengakui buah naga kaya dengan potasium, ferum, protein, serat, sodium dan
kalsium yang baik untuk kesehatan dibandingkan buah-buahan lain yang diimport.
Buah naga merah mengandung protein yang mampu
meningkatkan metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan jantung, serat (mencegah
kanker usus, kencing manis dan diet), karotin (kesehatan mata, menguatkan otak
dan mencegah masuknya penyakit), kalsium (menguatkan tulang). Buah naga juga
mengandung zat besi untuk menambah darah, vitamin B1 (mencegah demam badan),
vitamin B2 (menambah selera), vitamin B3 (menurunkan kadar kolesterol) dan
vitamin C (menambah kelicinan, kehalusan kulit serta mencegah jerawat).
23
|
Nutrisi
|
Jumlah
|
Kadar gula
|
13-18 briks
|
Air
|
90.20 %
|
Karbohidrat
|
11,5 g
|
Protein
|
0,53 g
|
Asam
|
0.139 g
|
Serat
|
0,71 g
|
Fosfor
|
8,7 mg
|
Magnesium
|
60,4 mg
|
Kalsium
|
134,5 mg
|
Vitamin C
|
9,4 mg
|
sumber: Kristanto,2009
|
F.
Uji Mineral
1. Natrium
Natrium adalah
kation utama dalam cairan ekstraselular. 35–40% natrium ada di dalam kerangka
tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti cairan empedu dan pankreas,
mengandung banyak natrium. Sumber utama natrium adalah garam dapur atau NaCl.
Garam dapur di dalam makanan sehari–hari berperan sebagai bumbu dan sebagai
bahan pengawet.
24
|
Tabel
2.3. Kandungan natrium beberapa bahan makanan (mg/100 gr)
Bahan Makanan
|
mg
|
Bahan makanan
|
mg
|
Daging
sapi
Hati
sapi
Ginjal
sapi
Telur
bebek
Telur
ayam
Ikan
ekor kuning
Sardin
Udang
segar
Teri
kering
Susu
sapi
Yogurt
mentega
|
93
110
200
191
158
59
131
185
885
36
40
780
|
Margarin
Susu
kacang kedelai
Roti
coklat
Roti
putih
Kacang
merah
Kacang
mende
Jambu
monyet,biji
Selada
Pisang
Teh
Coklat
manis
ragi
|
950
15
500
530
19
26
26
14
18
50
33
610
|
Natrium
Klorida yang juga dikenal sebagai garam meja atau garam karang merupakan
senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium Klorida adalah garam yang paling
berperan penting dalam salinitas laut dan dalam cairan ekstraselular dari
banyak organisme multiselular. Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk
kristal atau bubuk berwarna putih. Natrium klorida dapat larut dalam air tetapi
tidak larut dalam alkohol. Natrium klorida juga merupakan senyawa natrium yang
melimpah di alam.
25
|
Natrium
klorida digunakan dalam proses kimia untuk skala besar produksi senyawa yang
mengandung Sodium dan Khlor. Sejak akhir abad ke–19, pada waktu prose
elektrolisis secara besar–besaran diperkenal kan, telah dapat dibuat
bermacam–macam senyawa dengan bahan baku natrium klorida, misalnya Natrium
Hidroksida, Asam Klorida, Natrium Karbonat, Natrium Sulfat dan senyawa–senyawa
lainnya. Metode penetapan kadar natrium klorida menggunakan Argentometri Mohr.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Definisi
Konsepsional
1. Telur asin adalah istilah umum
untuk masakan berbahan dasar telur
yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk
menonaktifkan enzim
perombak).
2. Antioksidan merupakan
zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi.
3. Natrium
Klorida adalah garam yang berbentuk kristal atau bubuk berwarna putih. NaCl
dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol.
B.
Definisi Operasional
1. Uji aktivitas antioksidan dengan metode
DPPH menggunakan 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil sebagai sumber radikal bebas.
Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari zat antioksidan.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
(DPPH•)
+ (H—A) → DPPH—H + (A•)
Ungu Kuning
H-A adalah senyawa antioksidan yang akan diuji.
Ungu Kuning
H-A adalah senyawa antioksidan yang akan diuji.
2. Metode
penetapan kadar NaCl menggunakan Argentometri Mohr.
C.
27
|
Variabel bebas pada penelitian ini adalah telur asin
dengan media pengasinan yang ditambah ekstrak buah, sedangkan variable terikatnya
adalah aktivitas antioksidan, dan absorpsi NaCl.
D.
Waktu
dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember
sampai selesai. Tempat penelitian dilakukan di laboratorium Fakultas Farmasi
Mulawarman Samarinda.
E.
Populasi
dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh telur
bebek yang dijual dipasar segiri. Pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan teknik random sampling yaitu pengambilan sampel telur bebek yang
secara acak yang dijual di pasar segiri Samarinda. Sedangkan media pengasinan
yaitu air, dedak padi, dan abu gosok yang ditambah ekstrak buah.
F.
Alat
dan Bahan Penelitian
1. Alat
yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Alat
yang digunakan untuk pembuatan telur asin antara lain : timbangan, bak plastik,
amplas, sendok, pembungkus/ plastik, toples plastik.
b. Alat
yang digunakan untuk analisis dibagi menjadi dua yaitu untuk analisis sensoris
menggunakan seperangkat alat uji sensoris dan untuk analisis aktivitas
antioksidan menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
c.
28
|
2. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah :
a. Bahan
yang digunakan untuk pembuatan telur asin antara lain : telur bebek, garam
dapur, air, dedak, abu gosok, buah (buah jeruk dan buah naga)
b. Bahan
yang digunakan untuk analisis aktivitas antioksidan yaitu Diphenyl
picrylhydrazyl (DPPH) 0,5 mM, metanol p.a dan aquades.
c. Bahan
yang digunakan untuk analisis absorpsi NaCl yaitu kristal K2CrO4
p.a dan kristal AgNO3 p.a.
G. Prosedur Kerja Penelitian
1. Pembuatan Adonan Pasta Pengasinan
Bahan yang digunakan pada pembuatan adonan pasta pengasinan
ini adalah dedak, abu gosok, air, garam
dapur, dengan perbandingan antara dedak : abu gosok : air : garam dapur yaitu 1
: 1 : 1 : 1.
2. Pembuatan Telur Asin
Telur bebek yang telah disiapkan kemudian
diamplas seluruh permukaan telur agar pori-porinya terbuka. Dibalur telur
dengan adonan satu persatu secara merata sekeliling permukaan telur, setebal 1
cm. Selanjutnya telur yang telah dibalur dengan adonan dibungkus dengan
plastik. Kemudian disimpan atau dilakukan pemeraman dalam wadah selama 10 hari.
Diusahakan agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan tertutup.
Sedangkan untuk media air sediakan toples plastik lalu masukkan air dan garam
dapur ke dalam toples kemudian disimpan. Setelah 10 hari telur diangkat, dibersihkan/dicuci
dengan air sampai bersih. Selanjutnya
masukkan ekstrak buah (buah jeruk dan buah naga) sebanyak 15 mL ke dalam telur
kemudian di kocok agar ekstrak buah tersebut tercampur hingga merata. Kemudian
direbus selama 1 setengah jam.
3.
29
|
Sampel (4,0 mg)
dilarutkan dalam metanol ke dalam labu takar sampai tanda batas, lalu
homogenkan.
4. Pembuatan
Larutan DPPH
DPPH
(4,0 mg) dilarutkan dalam metanol sampai 100mL, sehingga didapat larutan 0,004%
(40,0 bpj). Larutan dijaga pada suhu rendah dan terlindungi dari cahaya (segera
digunakan).
5. Uji
Aktivitas Antioksidan dengan Metode DPPH
Dipipet
larutan induk (dengan variasi konsentrasi 0, 50, 100, 150)
g/mL. Dilakukan penambahan 250µL
DPPH 0,4 mM dan methanol sampai 1000µL
(1mL), selanjutnya campuran dhomogenkan dan dibiarkan selama 20 menit. Larutan
ini selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang 511 nm. Dilakukan
juga pengukuran absorbansi blanko. Hasil penetapan antioksidan dibandingkan
dengan vitamin C (asam askorbat), hal ini dilakukan karena vitamin C merupakan
antioksidan yang pada umumnya digunakan oleh masyarakat.
6.
30
|
Ditimbang
sampel (telur asin) yang sudah dihaluskan sebanyak 5 gram, masukkan dalam gelas
kimia. Ditambahkan aquades 30 mL dan dipanaskan sebentar agar semua larut dan
terpisah dari lemaknya (jangan sampai mendidih), dinginkan, kemudian dimasukkan
dalam labu takar 100 mL secara kuantitatif dan ditambah dengan aquades sampai
tanda batas, dihomogenkan sampai rata. Disaring dengan kertas saring sampai
didapatkan difiltrat yang jernih. Dipipet filtrat tersebut 5,0 mL, dimasukkan
dalam erlenmeyer 100 mL. Ditambah larutan K2CrO4 5%
sebanyak 0,5 mL. Dititrasi dengan larutan AgNO3 standar 0,05 N
sampai terbentuk endapan berwarna merah bata yang muda.
H.
Teknik
Pengumpulan dan Analisis Data
Data
dan teknik pengumpulan data dalam penelitian antioksidan alami pada telur asin
yang ditambah ekstrak buah dengan metode DPPH. Besarnya daya antioksidan
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
Abs. Blanko : Serapan radikal DPPH pada panjang
gelombang 511 nm.
Abs. Sampel : Serapan sampel dalam radikal
DPPH pada panjang gelombang 511nm
31
|
y = a + b x
Keterangan :
y : absorbansi x : konsentrasi (ppm)
a : intersep b : slope
Nilai IC50
sebagai parameter aktivitas antioksidan dihitung dengan menggunakan persamaan
regresi. Persamaan ini diperoleh dengan memasukkan nilai IC50
larutan uji dan larutan pembanding pada y sehingga diketahui nilai konsentrasi
efektifnya. Sebagai kontrol positif dan sebagai pembanding digunakan asam
askorbat (vitamin C).
Perhitungan
kadar NaCl yaitu sebagai berikut :
.
Keterangan
:
V : Volume AgNO3 yang digunakan
untuk titrasi sampel
N : Normalitas AgNO3
P : Pengenceran sampel
58,5
: BM NaCl
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian
Sampel telur asin yang telah
dimasak, dibiarkan dingin, lalu ambil isinya. Sampel dihaluskan, lalu
dikeringkan, setelah kering sampel diuji aktivitas antioksidan dan kadar
natrium klorida (kadar garam).
Pengujian aktivitas antioksidan pada penelitian ini
menggunakan metode DPPH, dengan konsentrasi ekstrak sebasar 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, dan 150 ppm. Pada penelitian ini digunakan vitamin C sebagai kontrol positif dan sebagai pembanding (dengan variasi konsentrasi yang
sama). Data hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel 4.1,
4.2, 4.3
dan 4.4.
Tabel
4.4 Kadar NaCl dengan titrasi AgNO3
|
Pengulangan
|
Air
|
Abu
Gosok
|
Dedak
|
1.
2.
|
I
II
|
5
4
|
3
2
|
2
2
|
Rata
– Rata
|
4,5
|
2,5
|
2
|
33
|
Kadar EkstrakSampel (µg/ml)(x)
|
AktivitasAntioksidan (%)(y)
|
Persamaan
Regresi Linier
|
0
|
0.00
|
y = 4.475+0.083x
IC50 = 548.49
|
50
|
10.69
|
|
100
|
7.13
|
|
150
|
2.57
|
Tabel 4.3 Hubungan antara kadar sampel telur
ditambah buah jeruk dengan daya
antioksidan dengan metode DPPH.
Kadar EkstrakSampel (µg/ml)(x)
|
Aktivitas
Antioksidan (%)(y)
|
Persamaan
Regresi Linier
|
0
|
0.00
|
y = 3.628+ 0.00766x
IC50 = 6.053,78
|
50
|
9.46
|
|
100
|
4.38
|
|
150
|
2.97
|
Tabel 4.4 Hubungan antara kadar vitamin C dengan daya
antioksidan dengan metode DPPH.
Kadar Vitamin C (µg/ml)(x)
|
AktivitasAntioksidan (%)(y)
|
PersamaanRegresi Linier
|
0
|
0.00
|
y = 14.374+0.22468x
IC50 = 158.56
|
50
|
45.69
|
|
100
|
39.80
|
|
150
|
39.41
|
B.
34
|
Pada
penelitian ini yang berjudul analisis
aktivitas antioksidan ekstrak buah naga dan jeruk dan absorpsi natrium klorida dengan
variasi media pengasinan telur itik. Tujuan dari proses pengasinan adalah untuk mencegah
kerusakan dan pembusukan telur serta memberi citarasa khas dari telur.
Pengasinan telur juga banyak menghasilkan keuntungan antara lain mudah untuk
dilakukan, biayanya murah, praktis, serta dapat meningkatkan kesukaan konsumen.
Manfaat dari penambahan ekstrak buah adalah agar menghilangkan bau amis pada
telur, menambah zat gizi serta menambah aktivitas antioksidan pada telur asin.
Pengujian absorpsi NaCl pada penelitian
ini dengan
metode argentometri mohr yaitu dengan cara titrasi dimana larutan AgNO3
standar 0,05 N sebagai titran, sedangkan sampel sebagai titratnya. Hasil
penentuan kadar NaCl pada telur asin hasil olahan dengan variasi media
pengasinan yaitu air, dedak, dan abu gosok.
Telur
asin pada media air mempunyai kadar NaCl yang besar yaitu sebesar 2,63% karena garam yang masuk ke dalam telur
berjalan secara difusi yang didorong oleh adanya tekanan osmotik, sehingga
semakin besar konsentrasi garam di dalam telur. Telur asin pada media abu gosok
mempunyai kadar NaCl yang kecil yaitu sebesar 1,46% karena garam yang masuk ke
dalam telur berjalan lambat karena garam harus melewati abu gosok terlebih
dahulu setelah itu baru menyerap ke dalam telur sehingga tekanan
35
|
Telur
asin pada media dedak mempunyai kadar NaCl yang sangat kecil yaitu sebesar
1,17%, garam yang masuk ke dalam telur berjalan sangat lambat karena garam
harus melewati dedak menyebabkan kecepatan difusi larutan garam yang masuk ke
dalam telur akan semakin kecil sehingga tekanan osmotik yang dihasilkan rendah
menyebabkan konsentrasi garam masuk ke dalam telur kecil. Jadi, kadar terbesar
NaCl pada variasi media yaitu media air, selanjutnya media abu gosok dan kadar
terkecil NaCl terletak pada media dedak.
Secara
standar adanya NaCl dalam telur asin ini memang belum dikeluarkan oleh
Departemen Kesehatan Indonesia, akan tetapi sebenarnya sudah banyak produk
bahan berasa asin yang telah distandardisasi seperti, mentega, kecap asin,
sarden dan masih banyak produk lainnya yaitu dengan besaran kadar NaCI 2–4%
b/b. Berasumsi bahwa produk telur asin merupakan produk makanan yang berasa
asin maka standar produk bahan berasa asin (mentega, kecap asin, sarden,dan
lain- lain) dapat digunakan sebagai
acuan. Sehingga tidak melebihi ambang batas dari kadar NaCl yang telah
ditentukan pada produk makanan. Hal ini berarti bahwa absorpsi NaCl pada telur
asin masih dikatakan aman bagi konsumen yang mengkonsumsi telur asin bahkan
bagi yang mengidap penyakit hipertensi karena kadar NaCl tidak lebih dari kisaran
2 – 4%.
36
|
Nilai IC50 merupakan konsentrasi suatu zat
antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau
konsentasi suatu zat antioksidan yang memberikan persentase penghambatan
sebanyak 50%. Nilai IC50 berbanding terbalik dengan besar aktivitas antioksidan, semakin kecil nilai IC50
berarti semakin kuat daya antioksidannya.
Terdapat aktivitas antioksidan yang juga ditandai
dengan terjadinya perubahan warna dari ungu menjadi kuning bening yang berarti
sampel tersebut mampu meredam radikal bebas dari DPPH, akan tetapi sampel
yang ditambah ekstrak buah naga tidak terjadi perubahan warna dari ungu menjadi
kuning bening(tetap berwarna ungu) yang berarti sampel tersebut tidak mampu
meredam radikal dari DPPH.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut.
37
|
Telur
asin yang ditambah buah jeruk pada
semua
konsentrasi diperoleh absorbansi sebesar 0,641. Apabila dibandingkan dengan vitamin C dengan
konsentrasi yang sama, aktivitas antioksidan sampel lebih rendah.
Nilai IC50
yang terdapat pada sampel telur lebih
besar dibandingkan
nilai IC50
vitamin C yaitu
nilai IC50 ekstrak buah jeruk sebesar 6053,78 µg/mL, sedangkan nilai IC50 vitamin C adalah
sebesar 158,56 µg/mL, karena nilai IC50
berbanding terbalik dengan besar aktivitas antioksidan, semakin kecil nilai IC50
berarti semakin kuat daya antioksidannya.
Sampel
ditambah ekstrak buah jeruk
dengan metode DPPH mempunyai aktivitas antioksidan yang
sangat rendah dan bahkan nilainya sangat jauh dari aktivitas antioksidan dari vitamin C,
hal ini dikarenakan nilai IC50 sebesar 6053,78 µg/mL(ppm) yaitu IC50 yang
diperoleh berkisar diatas kisaran
200–1000 ppm, maka zat tersebut sangat tidak aktif sebagai zat antioksidan.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Telur
asin pada media air mempunyai kadar NaCl sebesar 2,63%. Telur asin pada media
abu gosok mempunyai kadar NaCl sebesar 1,46%. Telur asin pada media dedak
mempunyai kadar NaCl sebesar 1,17%.
2. Telur
asin yang ditambah ekstrak buah naga mempunyai aktivitas antioksidan yang lebih rendah dari aktivitas antioksidan vitamin C,
sehingga zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat
antioksidan.
Telur asin yang ditambah ekstrak buah jeruk mempunyai aktivitas antioksidan yang
sangat rendah dan bahkan nilainya sangat jauh dari aktivitas antioksidan dari vitamin C,
sehingga zat tersebut sangat tidak aktif sebagai zat antioksidan.
B. Saran
Dari hasil penelitian ini, peneliti
menyarankan sebaiknya:
1. Menggunakan
panjang gelombang yang nilai absorbansi kecil, jika nilai absorbansinya kecil
maka hasil dari IC50 juga kecil sehingga mampu dijadikan
antioksidan.
2.
39
|
3. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai kadar natrium klorida
yang terkandung pada telur lainnya
misalnya telur ayam maupun telur puyuh.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, W, 2012, Kandungan nutrisi dan manfaat Buah, http://nutrisiuntukbangsa. org/buah-kandungan-nutrisi-dan-manfaatnya.
Admin,
2011, Kalori Gizi Umum Telur Rebus, http://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/telur-rebus
_____, 2013, Manfaat
Khasiat Buah Jeruk, http://manfaatdaunobat.blogspot.
com/2013/08/manfaat-khasiat-buah-jeruk-untuk.html
_____,_____, Sumber Makanan yang Mengandung Antioksidan, http://manfaatnyasehat.blogspot.com/2013/08/sumber-makanan-yang-mengandung-antioksidan.html
_____,2010, Antioksidan Alami Disekitar Kita, http://www.obatherbalalami.
com/2010/10/antioksidan-alami-di-sekitar-kita.html
Ahli Herbal, 2010, Kandungan Nutrisi dalam Telur, http://ahliherbal.com/jurnal/ kandungan-nutrisi-dalam-telur-369.html
Akaruicha, 2011, Zat Aditif Antioksidan, http://akaruicha.blogspot.com
/2011/10/ zat-aditif-antioksidan.html
Damayanti, A, 2008, Sifat Fisik, Kimia dan Organoleptik Telur
Asin yang direndam pada konsentrasi Garam dan Umur Telur yang Berbeda,
Skripsi Institut Pertanian Bogor: Bogor
Day, R.A dan Underwood, A.L,
1983, Analisa Kimia Kuantitatif,
Jakarta: Erlangga
Departemen Kesehatan RI,
1995, Pedoman Kesehatan pada Bahan
Makanan, Jakarta : Depkes RI
Edhi, S, 2011, Metode
Uji Aktivitas Antioksidan Radikal 11-Difenil-2-Pikrilhidrazil-DPPH,http://edhisambada.wordpress.com/2011/02/22/
metode -uji-aktivitas-antioksidan-radikal-11-difenil-2-pikrilhidrazil-dpph/
Fahmi, A, 2013, Manfaat Buah Naga,http://dropfamous.blogspot.com/2013
/09/ manfaat-buah-naga.html
Haryoto, 1996, Membuat Telur Asin, Yogyakarta :
Kanisius
Ionita P, 2003, Is DPPH Stable Free Radical A Good Scavenger
For Oxygen Active Species. Chem Pap 59: 11-16
Kompas, 2013, Kenali Kandungan Gizi Dalam Telur, http://health.kompas.com
/read/2013/09/02/1415478/Kenali.Kandungan.Gizi.dalam.Telur
Lusia K.A 2013, Cara
Buat Telur Asin, http://nuggetfiesta.wordpress.com/cara-buat-telor-asin-yang-masir
Mahayana, A dan Nur,H, 2010,
Modifikasi Teknologi Pengasinan Telur
Melalui Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji dan Pasir terhadap Absorpsi Garam
NaCl, Universitas Setia Budi Surakarta ; Surakarta
Molyneux P, 2004, The Use Of Stable Free Radical
Dyphenilpicryl-Hydrazil (DPPH) For Estimating Antioxidant Activity. J.Sci.
Technol: 211-219.
Permathic, 2012, Kandungan dan Manfaat Jeruk, http://permathic.blogspot.com /2012/04/kandungan-dan-manfaat-jeruk.html
Prakash, A., Rigelhof, F., dan Miller, E., 2010, Antioxidant
Activity, http://www.medallionlabs.com.
Robert
K. M, et al. (2003). Biokimia Harper. Buku Kedokteran : Jakarta.
Suryatno,
H, Basito, Esti Widowati, Kajian Organoleptik, Aktivitas Antioksidan,
Total Fenol Pada Variasi Lama Pemeranan Pembuatan Telur Asin Yang Ditambah
Ekstrak Jahe, Jurusan Teknologi
Hasil Pertanian, Universitas Sebelas Maret : Surakarta
Wikipedia, 2010, Antioksidan, http://id.wikipedia.org/wiki/Antioksidan
________, 2012, Telur, http://id.wikipedia.org/wiki/Telur
How do you chop and cut a stainless steel structure with
BalasHapus3. Set up a stainless steel core with an titanium chords edge grade 5 titanium of 2.5 mm on the top, the end of the bottom portion of titanium nail the bottom edge and the top half. the base titanium trim reviews of the bottom columbia titanium pants end and